Perokok Adalah Nihilist

perokok-adalah-nihilist

Perokok adalah Nihilist. Itu adalah yang muncul dalam pikiran saya ketika beradu argumen dengan perokok. Bukan apa-apa, tapi melihat dari argumentasinya yang menyalahkan pabrik rokok, apakah dengan ditutupnya pabrik rokok akan menghalangi perokok untuk merokok lagi? I don’t think so.

Joker Sebagai Nihilist

Bila bicara Nihilism, saya seringkali terbayang pada Joker. Joker adalah nihilist sejati, tidak peduli pada apapun. Uang atau kekuasaan pun tidak ada artinya. Hidup Joker hanya memiliki satu tujuan, yaitu memberikan pemahaman bagi dunia bahwa dunia tidak ada artinya. Joker selalu berbohong mengenai luka di mulutnya, karena luka tersebut tidak ada artinya. Joker juga selalu bercanda, karena hidup sejatinya adalah candaan.

Merokok adalah aktivitas yang menyenangkan, sejenak melupakan aktivitas duniawi yang sangat monoton dan gitu-gitu aja. Nietzsche mengungkapkan bahwa seorang nihilist adalah seorang yang tidak mendapatkan arti hidup. Dengan kata lain, hidupnya tidak ada artinya. Nihilist tidak percaya pada apapun, karena tidak ada yang pasti. Hanya kematian saja yang pasti.

Karena ketidakpercayaan inilah yang menyesatkan. Keluarga yang mengingatkan tidak digubris, dokter yang mengingatkan juga tidak diindahkan, apalagi orang lain yang tidak ada hubungan apapun. Hanya Tuhan-lah yang bisa memberikan hidayah-Nya kepada orang tersebut. Bahkan sejatinya, Nihilist pun tidak percaya adanya Tuhan, karena agama masih berupa kemungkinan. Apakah ada surga dan neraka? Tidak ada yang tahu pasti, karena untuk memastikan harus mati terlebih dahulu.

Solusi Perokok

Sebenernya ada beberapa solusi untuk perokok yang menganut paham Nihilism. Berdasarkan Albert Camus, seorang yang tidak menemukan arti hidup memiliki tiga opsi dalam menghadapi hidup:

  1. Bunuh diri. Karena bunuh diri tidak menyelesaikan masalah, maka ini bukanlah opsi.
  2. Bunuh diri secara psikologi. Banyak orang yang akan menghindari hidup dengan merokok, berjudi, narkoba, dan tiba-tiba menjadi religius. Agama disebutkan oleh Camus juga merupakan candu untuk menghindari kenyataan hidup. Karenanya, tidak heran orang yang galau dan sedang kalut pikirannya akan menghindari masalah dengan menjadi religius.
  3. Menerima.  Albert Camus menekankan bahwa untuk hidup di dunia yang tidak memiliki arti, maka pencarian arti akan sia-sia. Karenanya hanya orang yang memiliki kelapangan mental dan dada-lah yang bisa menjalani hidup ini dengan memberikan arti, bukan orang lain yang memberikan arti pada hidup. Tapi kita sendirilah yang harus memberikan arti.

Bagi para perokok, menjadi religius dengan berlindung dari balik ayat-ayat yang tidak menyatakan rokok haram bukanlah solusi, tapi solusi pengecut karena menghindar dari kenyataan hidup. Hidup itu perih, jalani dengan senyuman dan berilah arti. Keluarga dan orang lain yang menyayangi Anda bisa jadi arti dan tujuan dalam hidup ini.

Posting Menarik Lainnya:

  1. Bisnis Online Adalah Seperti Mengendarai Sepeda

Leave a Reply