Mitos Meritocracy

meritocracy

Meritocracy adalah sebuah sistem sosial dimana masyarakatnya bisa pindah-pindah status sosial dengan bebas…adalah impian dari banyak orang.

Dengan sistem ini, kesuksesan didefinisikan sebagai usaha + skill, hanya itu saja yang berperan. Bila kita bekerja cukup keras, maka kita bisa meraih kesuksesan. Yang malas bekerja, maka nggak akan sukses.

Terdengar bagus bukan?

Perbedaan Kasta dan Kelas

Kasta klo di Indonesia adalah sistem kasta dari agama Hindu, yang masih dianut oleh banyak orang yang menetap di Bali. Sistem ini menyatakan hanya background saja, yang menentukan hierarki sosial dari seseorang. Hindu membagi kasta menjadi beberapa, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisa, dan Sudra. Kasta ini melekat dari satu seseorang dari sejak dia lahir sampai dengan mati, tidak ada yang bisa mengubahnya. Stabilitas sosial sangat terjamin, karena itu kita jarang melihat adanya demo atau kerusakan akibat sistem sosial ini.

Kelas ini adalah sistem sosial dimana manusia bisa berpindah-pindah dari satu tingkatan ke tingkatan yang lain dan berdasarkan faktor background dan skill. Pergerakan sosial ini bisa horizontal, seperti misalnya seorang karyawan bisa pindah ke perusahaan lain dengan kedudukan dan gaji yang sama seperti perusahaan yang sebelumnya ia bergabung. Pergerakan sosial dengan vertikal juga mungkin terjadi, dimana promosi dan demosi memainkan peran. Ini khususnya terjadi di negara kapitalis dimana uang menjadi sumber penetapan atas sistem sosial.

Sisi Gelap Meritocracy

Walau meritocracy seperti surga, tapi, paham ini punya SISI GELAP.

Kekayaan, hanya terjadi dengan kekuatan tangan kita sendiri…tanpa menghiraukan yang namanya KEBERUNTUNGAN, atau REJEKI. Ini menjadikan orang MISKIN dituding malas, nggak mau bekerja, dan memang pada dasarnya nggak mau KAYA.

Juga pelabelan KEJAM bahwa orang miskin memang pada dasarnya PANTAS MENERIMANYA. Orang miskin akan menjadi sasaran belas kasihan, bukan karena ketidakberuntungan mereka, tapi pandangan rendah dari orang-orang kaya dengan paham tersebut. Tentu banyak orang bilang dengan bumbu-bumbu religius bahwa rejeki akan datang bila kita berusaha, nggak berusaha, maka rejeki nggak akan datang. Hati-hati karena itu paham Meritocracy.

Kenyataannya: Meritocracy…adalah dunia FANTASI.

Paham ini pada dasarnya NGGAK ADA di dunia ini, karena emang nggak mungkin bisa diterapkan. Jelas, banyak yang memanfaatkan indahnya FANTASI ini untuk perut mereka sendiri…seperti politisi, jualan atau untuk pencitraan.

Karena jualan FANTASI itu lebih laris ketimbang jualan fungsi atau barangnya.

Bukankah lebih rendah hati bila mengatakan bahwa hasil kesuksesan kita adalah karena REJEKI, karena kita BERUNTUNG ketimbang karena kita bekerja lebih keras dari orang lain dan memiliki skill yang lebih dari orang lain? Bukannya itu namanya KESOMBONGAN?

Posting Menarik Lainnya:

  1. Keberuntungan
  2. Haters Gonna Hate

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.