Expect the Unexpected

Expect-the-unexpectedBeberapa hari ini saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir tentang bagaimana melihat segala sesuatunya dengan kacamata yang berbeda, melihatnya dari banyak sisi…bukan cuma satu sisi atau sisi yang menurut saya adalah yang terbaik dan benar. Itu adalah Confirmation Bias, dimana kita menjustifikasi apa yang kita percayai dengan apa yang kita lihat. Dengan kata lain, kita melihat apa yang ingin kita lihat. Padahal, dari berbagai macam fakta, mata tidak dapat dipercaya. Kita bisa melihat benda adalah lurus, tapi sebenernya dari kacamata lain adalah bengkok. Rupanya realita tidak dapat dipercaya hanya dari indera saja, tapi juga dari bagaimana kita memikirkannya.

Expect the unexpected adalah salah satu cara untuk mengurangi kekecewaan. Harapan kita adalah sesuatu yang sangat rapuh, dimana bila kita terlalu berharap, maka kekecewaan justru akan semakin meningkat seiring dengan besarnya harapan kita akan segala sesuatunya. Karenanya, untuk menurunkan kekecewaan, bisa kita gunakan dengan cara mengurangi harapan, atau berjaga-jaga dengan worst case scenario yang terjadi.

Dan worst case scenario itu terjadi.

Akhirnya, ini bahkan menjadikan semakin berat walau sudah dipersiapkan. Rupanya manusia hanya bisa berusaha, dan Tuhan yang menentukan. Kita sudah berusaha dengan semaksimal mungkin, bila Tuhan tidak berkehendak, apalah daya kita sebagai manusia.

Tapi ada pelajaran penting dari expect the unexpected ini. Kita bisa belajar bagaimana bersikap, tidak langsung menilai hanya dari sampul saja, tapi juga mempelajari dari segi yang lain, dari segi dalam dan luar. Tidak hanya kulit, tapi juga daging dan tulang serta otot. Mirip dengan saat bayi saat kita belajar, kita belajar melangkah, terlihat mudah tapi saat dilakukan sangat sulit dan bahkan sering jatuh. Jatuhnya kita tidak serta merta mengurangi semangat kita untuk mengulangi lagi walau kita tau worst case adalah jatuh, kesakitan dan tangisan. Tentu saja, dulu kita memiliki ayah dan ibu yang selalu menjaga kita tatkala kita akan jatuh dan serta merta akan membangkitkan kita dari kesedihan dan kesakitan.

Tapi saat dewasa, kita hanya bisa sendirian. Tidak ada orang yang akan membantu kita kecuali Tuhan. Hanya pada Tuhan kita dapat berharap segala sesuatunya. Mungkin kita memang seperti bayi yang baru lahir, tidak pernah bisa belajar untuk mandiri, tapi selalu tergantung pada makhluk, dan bahkan Tuhan sendiri. Tidak adalah gunanya bagi manusia untuk belajar mandiri kalau begitu?

Nggak ada yang menarik.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.