Enlightened Hedonism

On-the-corner-of-Pleasure-St-and-Pain-AveEnlightened Hedonism adalah filosofi hidup yang memaksimalkan kesenangan jangka panjang dan menghindari penderitaan, seringkali menggunakan topeng agama…dimana agama dijadikan topeng untuk menutupi kecintaannya kepada materi. Bedakan dengan Unlightened Hedonism, yang secara basic memaksimalkan kesenangan jangka pendek. Itulah bedanya kenapa orang yang menganut paham Unlightened Hedonism lebih suka berfoya-foya dan ujungnya berakhir menjadi pemakai narkoba, atau masuk penjara.

Enlightened Hedonism, dilain pihak kalau dalam bahasa Inggrisnya…

MENUNDA KESENANGAN

Orang yang menganut paham ini, menunda kesenangan untuk kesenangan yang lebih besar. Mereka menuliskan apa kesenangan mereka, dan menuliskan rencana untuk mewujudkan kesenangan terebut. Terlihat bagus, tapi pada kenyataannya ini adalah budaya konsumerisme dimana orang dipaksa untuk mengkonsumsi barang-barang karena tidak menemukan adanya arti hidup. Mereka menggantungkan arti hidup pada barang-barang mewah, yang secara artificial memberikan kesenangan, walau hanya sebentar saja. Ini menjadikan mereka ketagihan oleh kesenangan, karena kesenangan yang mereka dapatkan habis setelah mereka mengkonsumsinya. Nggak awet.

Selain budaya konsumerisme, yang berbahaya lainnya adalah keberadaan topeng. Untuk menyembunyikan kesenangannya pada dunia, maka dibuatlah topeng religi. Agama seringkali dijadikan alat kamuflase, dimana semakin religius seseorang…maka dikatakan akan dijanjikan semakin kaya dan akan semakin punya barang-barang mewah.

Dengan kata lain, ikuti jalan religi…maka dunia akan mengikuti.

Agama, hanya dijadikan alat untuk menyembunyikan bahwa sebenarnya dirinya sangat haus akan dunia, tapi seolah-olah seperti religius dan mencari dalil-dalil pembenaran bahwa kekayaan adalah manfaat dari hidup, dimana kita harus kaya untuk bisa memberikan manfaat pada sesama. Yang pada aslinya, mereka memberikan manfaat hanya pada dirinya sendiri.

Enlightened Hedonism pada dasarnya adalah pelarian dari arti hidup…karena tidak adanya arti hidup yang ditemukan, maka menyibukkan diri dengan kesenangan, ini disebutkan oleh Viktor Frankl. Beliau juga memberikan masukan tentang bagaimana cara untuk mendapatkan arti hidup, yaitu ada tiga:

  1. Dengan fokus pada pekerjaan atau proyek, bukan pada hasil.
  2. Dengan mengalami pengalaman yang berarti atau bertemu dengan orang.
  3. Dengan menjalani penderitaan.

Menjalani penderitaan, oleh Viktor Frankl, disebutkan adalah opsi terakhir bila opsi no 1 dan 2 yaitu creative action tidak dapat dilakukan.

Pada satu sesi terapinya, dimana seorang dokter depresi karena tidak dapat melupakan istrinya yang telah meninggal…ditanya oleh Viktor, bagaimana bila Anda yang meninggal duluan? Jawab si dokter, maka istri saya akan sangat menderita. Viktor akhirnya memberikan petuah, “Anda telah menghilangkan penderitaan istri Anda, maka dari itu Anda harus hidup untuk menjalani penderitaannya dan berkabung untuknya”

Ini memberikan arti hidup bagi sang Dokter, bahwa penderitaan memang harus dijalani.

Posting Menarik Lainnya:

  1. Perokok Adalah Nihilist
  2. Hujan Tidak Pernah Salah

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.